Pendakian Semeru (The Journey #1)

28 Juli 2018, Akhirnya Aku Mendarat di Bandara Juanda, Surabaya.

IMG_5516+.jpg
Ilustrasi mendarat di Bandara Juanda, Surabaya


Pukul 12.30 WIB, siang ini aku sudah mendarat di Pulau Jawa lebih tepatnya di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur. Untuk beberapa hari kedepan aku akan melakukan perjalanan ku di Jawa Timur, kali ini aku berangkat dari kampung halamanku Aceh tidaklah sendirian melainkan bersama kawan ku bernama Martunis yang akrab di panggil Tunis. Dia akan menjadi partner jalan ku, sesampainya di Surabaya tak lupa aku langsung mengabari kawan ku yang tinggal di Surabaya, namanya Clarita, seorang wanita yang aku kenal melalui teman ku bernama Birul (kawan ku di Aceh), kenapa aku mengabari dia? karena perjalanan ku kali ini akan ditemani dia. Sudah dari sebulan yang lalu aku dan Clarita merencanakan akan melakukan perjalanan bersama ini.

Setelah aku memberi kabar Clarita bahwa aku dan Tunis sudah berada di Bandara tak lama Clarita membalas pesan whatsapp ku, aku dan Tunis disuruh untuk memunggu beberapa waktu, karena dia akan bersiap-siap terlebih dahulu sebelum menemui kami. Waktu pun menunjukkan pukul 15.30 WIB Clarita masih belum juga kelihatan, aku dan Tunis menunggunya di depan Bandara di pinggiran jalan tempat kendaraan seperti mobil dan motor berlalu-lalang. Tak lama kemudian aku mendapati dua orang wanita yang sedang mengendarai sepeda motor dengan membawa ransel carrier besar di belakang mereka, tentu saja aku menduga bahwa itu Clarita wanita yang akan aku temui sore ini. Ternyata dugaan ku benar wanita berbadan gemuk dengan kacamata hitam yang pakainya adalah Clarita.

“Bang….” sapanya ketika berhenti di depan hadapan ku dan Tunis.

“Hei…” jawab ku seraya melontarkan senyuman kepadanya.

Kali ini dia tak sendirian melainkan dengan temannya yang tidak aku kenal siapa namanya, Clarita dan temannya tidak berboncengan mereka membawa kendaraan sendiri-sendiri dengan carrier yang teramat besar di panggulnya. Tentu saja aku merasa wanita-wanita ini terlalu berani, setelah berbincang sebentar dengan Clarita tak lama kemudia aku dan Tunis pun langsung bergegas untuk menyiapkan diri dengan menata barang bawaan ku dan Tunis di atas motor yang mereka bawa. Bawaan kami berempat bisa dibilang overload bagaimana tidak? bawaan ku dengan Tunis saja sudah dua ransel carrier dengan ukuran yang cukup besar ditambah dengan satu daypack biru punya Tunis, begitu pula dengan barang bawaan Clarita dan temannya. Masing-masing dari mereka membawa ransel carrier yang bisa dibilang cukup besar bagaikan membawa kabur kulkas yang ada di rumah mereka hehehehe.

Selepas aku dan Tunis mengatur barang di atas motor kami berempat pun langsung akan melanjutkan perjalanan kami menyusuri beberapa tempat di Jawa Timur, sore itu aku kebagian motor dengan wanita kecil berkerudung dengan ransel carriernya yang bisa dibilang lebih besar ranselnya daripada badannya sedangkan Tunis dengan Clarita. Oh ya aku lupa cerita bahwa pertemuan ku kali ini dengan Clarita adalah pertemuan pertama kami, karena selama ini kami hanya hanya berkabar melalui ponsel lebih tepatnya kami salinh bertukar pesan melalui whatsapp. Walaupun ini pertemuan pertama kami tapi pertemuan ini memberikan kesan baik untuk aku, karena saat aku dan Tunis sampai di Surabaya kami disambut baik dengan Clarita dan temannya, yang masih tidak aku tahu siapa namanya hehehe.

Kami berempat pun langsung meninggalkan Bandara Juanda, mulai menyusuri jalan hingga meninggalkan Surabaya, saat di jalan aku merasa ada yang tidak nyaman dengan perjalanan ini entah itu perasaan ku saja atau bagaimana aku juga tidak tahu, tak lama kemudian ada suara yang menyeruhkan bahwa sedang tidak nyaman dengan posisinya.
“Mas-mas bentar dong posisi bawa carriernya ga enak nih” keluhnya sambil membenarkan posisi carrier yang sedang ia panggul di bangku motor yang aku kendarai.

“Kenapa?” tanya ku dengan tetap terus mengendarai motor.

“Carriernya berat, aku ga bisa menahannya” sahutnya seraya terus berusaha mengenakkan posisi duduknya di belakang ku.

“Carriernya nggak nyangkut ke besi motor ya? coba carriernya naikkan dulu ke atas besi motornya biar ga berat” saranku sambil terus tetap fokus mengendarai motor.

“Bentar-bentar aku coba dulu ya” sahutnya lagi dengan terus bergerak di atas bangku penumpang.

Aku pun dengan sedikit kesulitan untuk menjaga keseimbangan motor yang aku kendarai, bagaimana tidak? wanita yang aku bonceng terus saja bergerak berusaha membenarkan posisi duduknya.

“Bagaimana, bisa tidak?” tanya ku kepadanya.

“Nggak bisa mas, tetep aja carriernya berat.” sahutnya yang masih saja berusaha menahan ke tidak nyamanan yang dia rasakan di atas motor.

“Coba deh kamu majuan biar carriernya bisa naik di atas besi motor” saran ku dengan sedikit menolehkan pandangan ku ke belakang.

“Aku pegangan pundak masnya sebentar boleh kan?” tanya dia sambil sedikit memegang pundak ku dari belakang.

“Iya ga papa pegang aja, biar bisa nahan carriernya juga” jawab ku lagi.

Dia pun terus berusaha memngenakkan posisi duduknya dengan berupaya menahan carrier yang dia bawa. Jelas saja jika carrier yang dia bawa sangat berat untuk ukuran tubuh mungilnya, karena carrier yang dia bawa bukan miliknya, melainkan milik Clarita yang di dalamnya berisi tenda.

Kami berempat pun terus menyusuri jalan, sore ini jalanan begitu dipenuhi dengan kendaraan bermotor sehingga membuat jalanan semakin macet. Kami berjalan menuju Sidoarjo, saat di Sidoarjo kami melintasi kawasan Lumpur Lapindo. Lumpur yang sangat viral dikalangan masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jawa Timur, bagaimana tidak viral sejarah Lumpur Lapindo terlalu membekas di ingatan masyarakat Jawa Timur. Saat melintasi kawasan Lumpur Lapindo, Tunis yang sedang mengendarai motor di depan ku tiba-tiba berteriak ke arah ku.

“Bang…. Lumpur Lapindo” teriaknya sambil sedikit menoleh ke arah ku.

Bersambung…


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *