Pendakian Semeru (The Journey #3)

Bermalam di Desa Ranu Pani

Aku dan Clarita melanjutkan perbincangan kecil, Tunis tetap sibuk dengan mengotak-atik telpon genggamnya yang tak seberapa itu, sedangkan teman Clarita hanya duduk dan terdiam di sebelah motor. Sesampai di penghujung rokok ku yang menandakan sudah habis, kami berempat pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pani. Udara malam ini sangat dingin memang benar kata Clarita bahwa rute yang akan kami lewati cukup sepi dan gelap. Kami menyusuri desa yang ada di Tumpang melewati jalanan gelap yang tidak ada lampu penerang jalan, sehingga kami hanya mengandalkan lampu motor kami. Jarak antara satu desa dengan desa lainnya juga lumayan jauh. Walupun begitu jalan yang kami lewati masih beraspal mulus sehingga tak ada kesulitan yang berarti untuk melewatinya hanya terkendala oleh penerangan saja, sedangkan kata Clarita setelah nanti melewari rest area perjalanan kami akan melewati hutan yang jalannya tak mulus, melainkan banyak yang rusak.

Melewati rest area kami tidak berhenti, kami terus tetap melanjutkan perjalanan. Aku merasakan jalan yang kami lalui cukup menanjak, jalanan menjadi hening dan hanya cahaya bulan yang menjadi penerang malam yang sejuk ini. Sebelum sampai di pintu masuk kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) Clarita sebelumnya sudah mengatakan kepadaku, bahwa dia akan menggunkan jasa ojek sesampainya di pintu masuk TNBTS.

“Bang nanti sesampai pintu masuk aku mau pakai ojek ya, aku punya kenalan orang sana yang bisa ngojekin sampai Ranu Pani.” jelas Clarita kepada ku.

“Kenapa harus pakai ojek?” tanya ku kepadanya.

“Ya soalnya kalau ga pakai ojek, aku takut ga bisa naik. Aku kan gendut bang dan barang bawaan juga banyak, daripada ga bisa naik dan akan kenapa-napa mending aku di ojekin aja” jelasnya lagi.

“Iya bang, dia ini nanti pakai ojek sampai ranu pani aja” sahut Tunis yanh turut serta menjelaskan kepada ku

“Oh ya sudah kalau begitu” jawab ku.

Tak lama kemudian kami berempat sampai pada pintu masuk kawasan TNBTS, sesampai di sana kami berhenti sejenak untuk mengistirahatkan diri terlebih dahulu sambil menikmati suasana malam ini. Di pintu masuk TNBTS aku mendapati seorang lelaki penjual topi serta syal khas Gunung Bromo aku pun membelinya, karena harganya cukup murah hanya Rp 20.000,- saja untuk satu topi dengan harga segitu belum tentu aku dapatkan saat di Aceh. Tak lama kemudian si Tunis ikut serta membeli topi dan syal. Setelah aku dan Tunis membeli topi si Tunis pun berpamitan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu, sedangkan aku, Clarita dan temannya sedikit berbincang sembari memperhatikan orang-orang yang berada di sana yang sedang asik berbincang dengan bahasa Jawa khasnya. Aku pun tidak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan, sedangkan Clarita dan temannya paham sehingga tak jarang mereka membalas dengan tertawa perbincangan mereka. Selain mereka paham sebelumnya mereka juga sudah pernah ke sini dan bertemu dengan orang-orang itu. Selepas Tunis kembali dari kamar mandi, tak lama kemudian kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan kami, kali ini posisi motoran kami berbeda. Tunis berkendara sendirian dengan membawa dua buah carrier bersamanya, aku masih dengan temannya Clarita, sedangkan Clarita dengan ojek yang sudah dia pesan sebelumnya.

Jalanan begitu exstrim kanan kiri yang tak luput dari jurang, tikungan tajam, tanjakan ditambah lagi kondisi jalanan yang masih rusak. Aku berusaha untuk tetap fokus mengendarai motor agar tak terjadi kesalahan, karena apabila terjadi kesalahan nyawalah yang jadi taruhannya. Di tambah aku membawa nyawa satu orang wanita yang berada di belakang ku, sungguh aku tidak ingin terjadi apa-apa. Udara semakin dingin dan terus bertambah dingin, tak lama kami menyusuri jalanan kami tiba di pintu masuk desa Ranu Pani, sesampainya di pintu masuk Ranu Pani ojek yang sedang membawa Clarita pun berhenti dan meburunkan Clarita, aku kira ada apa eh ternyata mereka menyudahi pengojekkannya yang artinya Clarita kembali ke posisi awal. Si ojek pun bergegas pamit untuk kembali lagi ke markasnya di pintu masuk kawasan TNBTS. Dan kami melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani.

“Eh itu ya desa Ranu Pani” tanya ku kepada teman Clarita yang ada di belakang ku.

“Emm kayanya bukan deh bang, eh gatau deh soalnya malam jadi ga jelas akunya hehehe” jawabnya sembari tetap tenang di belakang.

“Kayaknya iya deh” sahut ku lagi dengan terus mengendarai motor.

“Mungkin kali ya” jawabnya lagi.

Tak lama setelah kami melewati sebuah desa yang sangat sunyi kamipun tiba di tempat parkiran yang berada di sebuah lapangan luas, sesampainya di parkiran kami langsung memparkirkan motor kami. Udaranya semakin dingin sehingga membuat kami semua menggigil kedinginan. Kata Clarita malam ini kami menginap di sebuah penginapan milik bu Marsal penduduk setempat, sesampainya di penginapan kami pun tidak langsung istirahat melainkan sedikit ngobrol malam ini. Tunis yang masih saja sibuk dengan telepon genggamnya sembari mengisi batrainya, aku berbincang dengan Clarita dan temannya yang masih saja belum aky tahu namanya.

Tidak sampai larut malam kami berempat memutuskan untuk tidur mengungat esok hari kami harus melakukan pendakian pagi hari. Udara malam ini cukup dingin aku, Clarita, dan Tunis tidur dengan menggunakan sleeping bag sedangkan teman Clarita sudah tertidur pulas tanpa menggunakan sleeping bag. Entah dia kedinginan atau tidak yang jelas tidak terlihat gerak gerik kedinginan darinya. Malam ini kamipun tertidur pulas sampai pagi.

Bersambung…

Jika tertarik mengikuti ceritaku, kalian bisa bisa mengunjungi laman ini untuk cerita sebelumnya, Pendakian Semeru (The Journey #2)


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *