Pendakian Semeru (The Journey #4)

Memulai Pagi di Desa Ranu Pani

Pagi ini aku sudah terbangun dari tidur ku, udara pagi ini juga sudah tidak sedingin malam kemarin. Tunis juga terbangun dari tidurnya, tak lama kemudian Clarita dan temannya juga ikut terbangun, hari ini aku dan ketiga kawan ku akan memulai cerita kembali di Ranu Pani. Aku juga lupa bilang bahwa ini kali pertama ku menjajakan kaki untuk mendaki Gunung di pulau Jawa. Jika aku berada di Ranu Pani tentu saja Gunung yang akan aku daki adalah Gunung Semeru atau yang lebih di kenal Mahameru tempatnya para dewa. Gunung tertinggi di Pulau Jawa, sungguh aku sangat excited.

Setelah kami berempat bangun, kami langsung bergegas membereskan barang bawaan kami, Clarita dan temannya turun ke kamar mandi bawah yang ada di parkiran entah untuk mandi atau sekedar cuci muka aku juga tidak tahu, yang jelas pagi ini aku dan Tunis memutuskan untuk tidak mandi karena air di sini sangatlah dingin sehingga membuat ku tidak ingin menyentuhnya berlama-lama hehe.

Tak lama kemudian Clarita dan temannya datang kembali bersama kami, kamipun langsung menata ulang barang bawaan kami terlebih membagi logistik yang akan kami bawa ke atas. Clarita dan temannya sangatlah prepare untuk pendakian kali ini, mereka membawa logistik yang tercukup banyak karena mereka juga membawakan untuk aku dan Tunis. Setelah berberes kami merasa ada logistik yang kurang sehingga si Tunis dan Clarita memutuskan untuk kebawah membeli telur dan beberapa makanan ringan di warung yang ada di Ranu Pani. Aku pun tetap menunggu di tempat penginapan di temani oleh teman Clarita.

Tidak butuh waktu lama Tunis dan Clarita pun kembali ke penginapan, setelah beres membeli barang yang mereka cari kami pun berkemas kembali sembari benar-benar memastikan barang bawaan. Daypack punya Tunis kami titipkan kepada sang pemilik penginapan karena aku rasa itu tidak penting untuk dibawah yang ada akan menambah beban jika di bawa. Selepas kami menitipkan barang kamipun membayar biaya penginapan kami semalam, menhinap di sini untuk semalam saja harus mengeluarkan rupiah Rp 40.000/orang.

Setelah beres kamipun meninggalkan tempat penginapan itu dan mulai berjalan kaki menuju basecamp Gunung Semeru untuk melengkapi data kami yang akan memulai pendakian. Sesampai di depan basecamp aku melihat begitu banyak pendaki yang sedang menunggu di pelataran basecamp tak luput terdapat beberapa pedagang bakso serta kios kios kecil yang menjual pernak pernik khas Semeru. Tak lama kemudian Clarita mengajak aku, Tunis, dan temannya untuk sarapan bakso khas Malang, katanya baksonya enak. Akhirnya kami pun memesan bakso tersebut, bakso yang di campur dengan lontong. Jujur di Aceh tidak ada makanan macam ini, kenapa bakso di kasih lontong? itu yang ada dibenak ku hehehe.

IMG_5529.JPG
Hermin sedang menyantap bakso


Jika di Aceh bakso itu hanya sejenis bakso bulat yang dikasih bumbu tanpa kuah, tapi di Jawa bakso terdiri dari bakso, tahu, gorengan, mie, sayur, kuah, bahkan lontong ikut serta didalamnya nimbrung jadi satu di dalam mangkuk kecil bergambar ayam. Sungguh aku dan Tunis terheran-heran, bagaimana tidak terheran-heran di Aceh makanan macam ini di sebut mie so bukan bakso dan didalam mie so juga tidak terdapat lontong untuk di daerah aku. Meskipun masih terheran aku dan Tunis pun tetap menikmatinya seraya di temani dengan Clarita dan temannya. Ternyata bakso di Jawa enak hahaha jadi pingin lagi.

Saat menikmati bakso kami berempat sedikit berbincang aku dan Tunis sering kali berbicada dengan bahasa kami dari Aceh sedangkan Clarita dan temannya hanya bisa menyimak dengan raut muka tidak paham dengan pembicaraan ku dan Tunis. Suasana pagi ini begitu hangat dan menyenangkan untuk kami, walaupun baru ketemu kemarin sore aku merasa sudah akrab dengan Clarita dan temannya. Akhirnya bakso kami pun habis semangkuk hanya saja teman Clarita yang hanya mampu menghabiskan 1/2 porsi saja, entah kenapa begitu, yang jelas katanya sudah kenyang.

IMG_5534.JPG
Tunis, Hermin, dan Clarita sedang berdiri diluar ruangan breefing


Sehabis makan bakso kami pun ke tempat pengecekan fisik yang sudah di sediakan pihak Balai Nasional untuk mengecek kondisi para pendaki yang ingin melakukan pendakian ke Semeru, saat di cek dan ditensi darah kami semua pun terbilang normal kecuali teman Clarita yang dinyatakan bahwa tensi darahnya masih rendah, tapi katanya tidak apa-apa. Selesai cek fisik kami pun menuju ke tempat briefing untuk sedikit dijelaskan akan aturan-aturan selama pendakian Gunung Semeru. Tak butuh waktu lama mungkin hanya sekitar 30 menit briefing berjalan, selepas briefing kami berempat bergegas untuk meninggalkan tempat briefing itu. Clarita berjalan terlebih dahulu menuju tempat perijinan dimana data pendaki akan di cek sudah lengkap atau belum, sedangkan aku, Tunis dan teman Clarita berjalan beriringan sambil menunggu Clarita.

Saat aku berjalan bersama teman Clarita, dia pun menyadari bahwa di belakang kami berdua tak terlihat si Tunis. Dan dia pun kebingungan mencari si Tunis dengan menoleh ke belakang.

“Mas bentar deh, mas yang satunya kemana?” tanya nya sambil berjalan pelan.

“Noh ini orangnya sebelah aku” jawab ku sambil sedikit tertawa.

“Kirain masih di belakang” sahut dia lagi.

IMG_5551.JPG
Hermin memperlihatkan karcis masuk TNBTS


Sambil berjalan kami bertiga berhenti di sudut sebelah kios kecil sambil menunggu Clarita, tak lama kemudia Clarita datang dan kami berempat memulai perjalanan kami menuju pintu masuk pendakian Gunung Semeru yang letaknya kurang lebih 100meter dari pos perijinan. Di selah berjalan kami berbincang satu sama lain.

“Ini dari tadi tanyanya mas yang itu, mas yang ini, ga tau ya namanya?” ujarku sambil tertawa.

“Mangkanya kenalan biar ga bingung manggilnya hahahah” sahut Clarita yang sambil membereskan tas kecilnya.

“Yaudah kenalan yuk, nama aku Hermin. Bang dani yang di wa Clarita itu yang mana?” sahut teman Clarita yang sedari kemarin belum aku tahu namanya.

“Lah ya yang ini yang bang dani itu” sahut Clarita lagi sambil menunjuk ke arah ku.

“Oh ini ya, klo gitu mas yang ijo namanya siapa?” tanya Hermin sambil menunjuk ke arah si Tunis.

“Kalau aku temannya ronaldo tau ga?” kata si Tunis sambil bercanda.
“Siapa?” tanya Hermin lagi sambil kebingungan.

“Nama aku Martunis dipanggilnya Tunis” jelas si Tunis lagi.

“Oh yayayaya” sahut Hermin sambil tertawa.

Bersambung…


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *