Pendakian Semeru (The Journey #5)

Draft saved.

Insert images by dragging & dropping, pasting from the clipboard, or by selecting them.

Rewards: 50% SBD / 50% SP

Advanced settings

  
Preview
Inilah Jalur Semeru, Pos 1
Sebenarnya mereka bukan lagi orang baru dalam dunia pendakian, terlebih Clarita yang sudah beberapa kali menjajahkan kakinya di jalur pendakian ini. Karena mengingat betapa seringnya dia pergi ke Semeru. Meskipun hanya sekali ia mampu mencapai puncak Mahameru tapi Clarita sudah 7 kali pergi ke Ranu Kumbolo, meski hanya untuk bermalam saja sembari menikmati suasana Ranu Kumbolo. Sambil tersenyum aku langsung melontarkan tanya kepada Hermin.

“Sehat min?” tanya ku sambil tertawa.

“Sehat bang” jawabnya dengan sumringah.

Sambil berbincang sepah dua kata aku persilahkan mereka untuk beristirahat. Namun Clarita menolaknya yang beralasan akan sulit untuk bangkit apabila sudah terduduk. Alasan tersebut memanglah tepat, jika kami berhenti untuk duduk maka akan muncul rasa malas untuk berdiri melanjutkan perjalanan terlebih jika duduknya terlalu lama seperti yang aku dan Tunis lakukan saat ini.

Aku dan Tunis memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami berdua, dan membiarkan Clarita dan Hermin untuk beristirahat sejenak. Aku sudah sangat yakin bahwa mereka akan baik-baik saja, terlebih kondisi fisik Hermin terlihat sudah fit kembali. Dengan carrier yang begitu besar di pundaknya masih saja dia senyum-senyum sekaligus bercandaan dengan Clarita. Aku dan Tunis pun berjalan menyusuri jalur pendakian menuju pos 1, tak lama kemudian kami berdua sampai disana. Sesampai di pos 1 aku dan Tunis terkejut karena melihat ada pedagang yang menjajakan makanan di lokasi tersebut.

“Hah? apa-apaan ini?” teriak Tunis sambil tertawa ke arah ku.

“Nyan ban gunong di Jawa” sahut ku yang membalasnya dengan bahasa Aceh.

Yang artinya “seperti ini gunung di Jawa” aku mendapat info bahwa akan ada pedangan makanan di setiap pos yang akan kami singgahi nanti. Aku pun sontak terheran-heran. Pedagang di sini menjual gorengan, jajan pasar, dan yanh paling menggiurkan adalah semangka, ya semangka. hehehe

Meski hanya baru berjalan sebentar aku dan Tunis memutuskan untuk menghentikan perjalanan di pos 1 terlebih dahulu. Maklum baru kali pertama ini aku dan Tunis mengalami hal seperti ini di Aceh naik gunung tidak pernah di manjakan dengan pedagang makanan seperti ini. Kami pun duduk di kursi yang sudah di sediakan yang terbuat dari kayu sembari menikmati suasan di pos 1. Tak lama seusai aku melepaskan carrier, dari bawah kembali terlihat Clarita dan Hermin yang raut wajahnya sedikit kusam menahan beban carrier jalur ke pos 1 memang sedikit menanjak. Sontak saja aku langsung mengambil kamera untuk mengambil gambar wajah-wajah Clarita dan Hermin hehehe.

IMG_5581.JPG
Hermin memikul carrier yang melebihi ukuran tumbuhnya


Sambil mengambil gambar aku pun kembali bertanya kepada Hermin dengan pertanyaan yang sama “Sehat min?” namun kali ini dia tidak menjawab dan hanya membalas dengan sebuah lemparan senyum ke arah ku. Mereka berdua langsung duduk di kursi yang sama dengan yang aku tempati, kemudian Clarita bangkit menyapa si bapak penjual gorengan dengan sebutan “hai pendaki ganteng” padahal si bapak sudah tua namun masih dipanggil ganteng olehnya.

Saat di pos 1 kami berempat sedikit berbincang sambil mengistirahatkan kaki dan badan.

“Pak pendaki ganteng, saya ambil semangka 4 ya pak” ungkap Clarita kepada bapak penjual semangka.

“Iya mbak monggo, mbak e kok merene mane” sahut bapak penjual semangka.

“Iyo pak e iki loh ngeterno kanco-konco ku pingin muncak pak e” jawab Clarita sambil membagikan semangka yang tadi ia ambil kepada aku, Tunis dan Hermin.

“Gak bosen yo sampean sini terus” sahut bapak itu lagi.

“Yo gak lah pak hahaha” jawab Clarita sambil memakan semangka.

Aku dan Tunis tidak begitu paham akan pembicaraam Clarita dan bapak penjual semangka, karena mereka berkomunikasi dengan bahasa jawa. Sementara aku masih saja penasaran akan Clarita yang memanggil bapak itu dengan sebutan “Pendaki Ganteng” aku pun tak segan untuk menanyakannya pada Clarita.

“Kenapa si bapak dipanggil pendaki ganteng?” tanya ku kepada Clarita sambil menikmati semangka.

“Hahahaha jadi gini loh bang, tahun lalu ada mbak-mbak dari Jakarta ke sini terus si bapak itu di kasih topi yang dia pakai itu. Topi yang bapak itu pakai dulunya pas baru-baru di kasih ada tulisannya “Pendaki Ganteng” gara-gara sama bapaknya di pakai terus jadinya hurufnya ada yang hilang deh jadi “ndaki nteng”” jelas Clarita kepada ku.

Setelah mendengar penjelasan dari Clarita aku Tunis dan Hermin pun tertawa dengan kerasnya. hahaha

IMG_5583.JPG
Hermin dan Clarita ketika beristirahat di Pos 1, pasang melas dan tersenyum ke kamera


Setelah beberapa menit aku dan Tunis beristirahat Clarita pun kembali menyuruh kami berdua untuk cepat beranjak dan melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman saat sampai Kalimati, sedangkan Clarita dan Hermin bermalam di Ranu Kumbolo saja. Aku dan Tunis pun akhirnya mengamini saran dari Clarita setelah semua perlengkapan kembali ku pikul lagi.

“Sampai ketemu besok siang di Ranu Kumbolo ya” ujar ku seraya mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

“Siap bang” sahut Clarita.

Karena memang aku dan Tunis berencana akan kembali bermalam di Ranu Kumbolo setelah turun dari puncak Mahameru. Tak lupa Tunis pun dengan percaya dirinya memberi pesan kepada Clarita dan Hermin agar besok siang menyiapkan makanan untuk aku dan Tunis.

“Eh jangn lupa ya besok kami turun kalian sudah buat makanan yang enak ya buat kami berdua hahaha” ujar Tunis sambil mengacungkan jempolnya.

“Siap bang” sahut Clarita dan Hermin dengan kompaknya.

Dasar si Tunis tidak tahu diri, berasa sama siapa aja main perintah-perintah kenal juga baru kemarin sore tapi gayanya sudah seperti orang yang kenal lama. Akhirnya aku dan Tunis kembali meninggalkan Clarita dan Hermin, dan kami berdua melanjutkan perjalanan kami menuju Kalimati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *