Pendakian Semeru (The Journey #6)

Menuju Ranu Kombolo
Kami terus berjalan ringan dan sesekali dengan sedikit menambah kecepatan, karena memang jalurnya tidak terlalu sulit, masih banyak landai dan energi kami pun masih dalam kategori aman. Tak lama berselang kami kembali melihat pondok-pondok dengan beratapkan terpal warna-warni berdiri didepan yang mendankan bahwa kami telah sampai di pos 2, iya kondisinya sama persis seperti di pos pertama, hanya saja disini juga tersedia 2 kamar mandi atau toilet lebih tepatnya. Kualitas toiletnya juga standard perkotaan la, jadi hampir persis seperti rest area, sungguh luar biasa jalur pendakian ini.

Tunis bertanya, “kita rest disini lagi bg?”

“Ga usah, kita lanjut saja.” Sahut ku.

“Ok!!” Timpalnya kembali.

Antara pos 1 ke pos 2 memiliki jarak sekitar 5 km seperti yang terpampang pada papan informasi, sehingga kami memutuskan untuk tidak beristirahat di pos kedua ini. Namun Clarita mengatakan bahwa antara pos 2 menuju ke pos 3 memiliki waktu tempuh yang lebih lama, namun ia tidak merincikan berapa jarak antar pos tersebut. Kami terus berjalan dan mulai merasakan bahwa sudah dari tadi berjalan namun pos 3 belum ketemu juga. Akhirnya setelah berjalan begitu lama kami sampai juga di pos 3, tanpa pikir panjang langsung saja kami putuskan untuk istirahat disini. Benar saja, ternyata antara pos 2 dan pos 3 memiliki jarak 10 km, jelas itu merupaka 2 kali lipat dari jarak antar pos sebelumnya.

“Bang ternyata benar, pos 3 ini sangatlah jauh” keluh Tunis.

Aku langsung terkekeh mendengar ucapannya tersebut, walau sebenarnya aku yang lebih kelelahan ketimbang dia. Kalau soal fisik memang dia berada jauh diatas fisik ku, dia sangat enerjik dan bukan seorang perokok. Sembari beristirahat kami memutuskan untuk membeli beberapa potong semangka dan gorengan sebagai pengganjal perut, karena memang sebenarnya jam makan siang sudah tiba.

“Nis belikan beberapa potong semangka dan juga gorengan!” Perintah ku sembari menyodorkan selembar uang 20 ribu.

Tunis pun menghabiskan uang tersebut untuk 4 potong semangka dan 4 gorengan.

“Bang sepertinya lebih bagus kita cari tempat makan di jalur saja, disini sangat berdebu” kata Tunis setelah membeli makanan.

“Owh iya, kita naik aja keatas dan cari lokasi yang pas” ujar ku.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak makan disitu, karena memang pos 3 berada tepat di bawah jalur yg terjal. Sehingga ketika ada pendaki yang turun, maka debu yang sangat lumayan akan dihasilkan dari langkah-langkah sepatu mereka.

Kami terus berjalan meleweti jalu yang terjal tersebut dan berpikir akan duduk untuk makan ketika telah menemukan jalur landai serta tidak lagi berdebu. Namun realitanya berbanding terbalik dengan ekspektasi yang kami pikirkan, meski sudah tidak lagi terjal, jalur berdebu tiada habisnya.

“Ga betul ini Nis, gini terus kayaknya ini jalurnya” kataku ke Tunis.

“Jadi gimana?” Dia malah bertanya

“Yaudah kita makan disini terus, perut udah keroncongan ini” jawab ku.

Kemudian kami memilih tempat yang sedikit bisa masuk kedalam ilalang dan duduk dengan posisi membelakangi jalur. Setelah melahap makanan aku langsung mengajak Tunis untuk kembali bergerak, karena memang debu disana sangat menyesakkan.

“Udah Nis, yuuk lanjut lagi!” Ajak ku.

“Laah tumben bang ga ngerokok dulu siap makan?” Tunis menyahut dengan sedikit menertawakan ku.

“Kalah asap rokok ku dengan asap dari debu ini!” Sambung ku.

Meskipun sangat ingin untuk menarik asap dari sebatang rokok, aku mengurungkan niat tersebut karena memang harus kalah dengan debu yang dihasilkan dari jalur. Kami terus berbincang ringan sambil menapaki langkah demi langkah dengan sesekali bercanda ringan. Sedari dari pos 3 kami mulai bertemu dengan pendaki yang berlawanan arah yang sedang turun, setiap bertemu pendaki tentu kita saling sapa, yang mulanya ketika mereka mengatakan “mas” kami menjawab “iya” sampai akhirnya saling sapa dengan “monggo” dan “ngge mas/mba.”

“Tunis coba kamu perhatikan, di Aceh kita saling menyapa ke pendaki lain dengan kata-kata bang, mau naik bang, semangat, nah disini monggo, mari, ngge, haha” aku berkata pada Tunis sambil tertawa.

“Iya bang, setidaknya kita udah menguasai tiga kata dalam bahasa jawa” sambung Tunis sambil terkekeh.

Sambil berbincang dan terus melangkah tanpa sadar kami sampai ke sebuah pemandangan yang sangat luar biasa, karena Tunis berada di depanku dia yang duluan meilihat view yang sangat kami nantikan itu.

Sambil berteriak ia mengatakan “bang, Ranu Kumbolo!”

Sambil tersenyum aku segera mengayunkan langkah lebih cepat untuk melihat danau yang sangat terkenal tersebut.

Belum selesai aku terkagum dengan keindahannya, Tunis sontak mengatakan “bang foto dulu.”

IMG_5610.JPG
Berpose dengan pemandangan Ranu Kumbolo


Segera aku keluarkan kamera dari dalam dry bag dan kami pun saling pertukar peran dalam mengambil gambar masing-masing. Setelah puas berpose kami melanjutkan perjalan yang hanya sedikit lagi sampai ke pos 4, setelah pos 4 menurun sedikit kemudian mengitari danau dan sampailah ke lokasi perkemahan Ranu Kumbolo. Kami beristirahat sejenak disana dan mengambil perbekalan air untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Sebelum mengambil perbekalan air di danau kami berkeliling kesana kemari tak jelas karena masih antara percaya atau tidak bahwa kami telah sampai di Ranu Kumbolo dan kemudian Tunis menyempatkan diri untuk memejamkan mata selama kurang lebih 30 menit di bawah terik matahari yang berselimut sejuk cuaca Ranu Kumbolo.

IMG_5642.JPG
Tunis di depan sebuah prasasti di Ranu Kumbolo


Bersambung…


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *