Pendakian Semeru (The Journey #7)

Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo, Cemoro Kandang
“Nis, Tunis bangun, sudah hampir jam 3” aku membangunkan Tunis yang terlelap dibawah terik matahari.

Sambil menyodorkan beberapa botol minuman aku memerintahkan Tunis untuk mengisi botol tersebut dengan air. “ini kamu isi dulu airnya, biar aku yang packing barang.”

Tunis bangkit dari tidurnya dan segera mengambil botol kemudian menuju pinggiran danau untuk mengisi perbekalan air. Sesuai perbekalan yang diberikan saat breefing di pos pelaporan Ranu Pani bahwa kita tidak boleh turun ke dalam air, hanya diperkenankan untuk mengambilnya dari pinggiran danau, bahkan pada saat breefing dikatakan jangan sesekali kalian mencelupkan anggota tubuh kalian ke dalam Ranu Kumbolo. Jadi yang harus diperhatikan ketika mengambil air di Ranu Kumbolo adalah mencari titik pinggir yang sedikit lebih dalam agar air tidak menjadi keruh ketika kita mengisinya kedalam botol. Namun Tunis memilik triknya sendiri, katanya jika kita mengambil dengan cepat endapan lumut dibawah air tidak akan ikut terambil.

Setelah ia selesai mengisi air kedalam beberapa botol aku juga telah selesai melakukan packing ulang terhadap carrier yang kami bawa. Owh iya, aku lupa mengatakan bahwa carrier tersebut sembat kami bongkar untuk mengambil beberapa keperluan dan kebetulan botol-botol kosong semula juga berasal dari dalam sana. Ketika Tunis kembali dan membawa perbekalan air kami hanya perlu menata botol-botol tersebut diatas dan sebagian kami selipkan disisi carrieruntuk memundahkan jika sewaktu-waktu kami perlu mengambilnya karena kehausan. Setelah semuanya selesai kami pun bergerak kembali.

“Ok bang beres, sekarang kita menuju tanjakan cinta hahaha” celoteh Tunis setelah memikul carrier dipundaknya.

“Gimana, ada rencana untuk tidak melihat kebelakang seperti kata orang-orang?” tanyaku

“Ah itu kan cuma mitos, jangankan melihat kebelakang, secara mundur aku akan jalan” jawabnya.

Sambil tertawa mendengar pernyataannya akupun telah memantapkan carrier dipundak dan kami segera melalui tanjakan yang penuh mitos tersebut. Jika dilihat sekilas tanjakan ini bukanlah apa-apa, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu terjal. Hanya saja karena kita baru beristirahat yang lumayan panjang dan langsung memulai dengan sebuah trek maka menimbulkan kesulitan tersendiri disana.

“Berat juga ya Nis tanjakan ini, benar-benar seperti namanya (Tanjakan Cinta) butuh pengorbanan untuk melaluinya haha”

Setengah tanjakan kami berdua berhenti untuk mengatur pernapasan, kemudian berbalik badan memandang ke arah belakang yang menampilkan keindahan Ranu Kumbolo, yang mitosnya tidak boleh melihat kebelakang. Memang sungguh indah pemandangannya, sungguh akan sangat disayangkan jika kita tidak menikmatinya meskipun disaat pulang besok kita dapat melihatnya kembali, tentu rasanya akan berbeda. Apalagi bagi kami yang baru pertama kali melakukan pendakian di Semeru, lain cerita bagi mereka yang sudah beberapa kali pulang pergi dari sini. Seusai mengatur nafas kami pun segera melanjutkan perjalan, sampai di puncak tanjakan kami bertemu dengan beberapa pendaki lain dan saling bertegur sapa. Kami kembali memutuskan untuk melakukan rest dan berbagi cerita ringan bersama mereka, kerena memang setelah melewati tanjakan cinta fisik kembali memaksa kami untuk beristirahat.

IMG_5644.JPG
Dihadapkan pada dua pilihan, turun ke lembah atau menyusuri lereng


Dari sana kami disuguhkan dengan pemandangan sebuah lembah yang sangat luas, lembah tersebut dinamakan oro-oro ombo. Disana ada sebuah tanaman berwarna ungu yang kebanyakan orang menamakannya dengan lavender. Sebenarnya tanaman tersebut bukanlah lavender melaikan sebuah tanaman parasit yang menyerap banyak air, sehingga mereka banyak tumbuh di lembah-lembah seperti oro-oro ombo ini. Dari situ kami dihadapkan pada dua pilihan jalur, turun kedalam lembah atau jalan menyusuri lereng bukit disampingnya. Akhirnya kami memutuskan untuk turun kedalam lembah, meskipun terjal namun itu bukanlah masalah karena kondisinya menurun dan memutuskan untuk menyusuri lereng ketika jalan pulang nanti.

IMG_5646.JPG
Kami memutuskan untuk ke Oro-oro Ombo


Didalam lembah tersebut kami berjalan bak orang dikejar setan, sangat cepat kami mengayunkan langkah, kerena meski jalurnya panjang namun memang kondisinya sangatlah datar. Kami sempat berheti untuk mengambil gambar beberapa lembar dan kemudian kembali kebut-kebutan menuju trek poin selanjutnya yaitu Cemoro Kandang. Setelah melewati tanaman parasit tadi, kami melewati jalur yang berpasir yang sedikit membuat sepatu terbenam kedalamnya. Dalam banyanganku jalur dipuncak nanti mungkin akan seperti ini, dalam bayangan saja ya haha.

IMG_5658.JPG
Papan informasi Cemoro Kandang


Sampai di Cemoro Kandang kami bertemu dengan beberapa pendaki lain yang juga sedang beristirahat disana, setelah bercerita-cerita ternyata mereka berasal dari Solo, kampungnya Mr. Presiden Jokowi. Mereka sedikit terkejut ketika mengetahui kami berasal dari Aceh, mereka membanyangkan betapa jauhnya perjalan kami ke Jawa Timur hanya untuk melakukan pendakian di Gunung Semeru. Tak lama berselang akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan duluan.

“Yuuk mas kita lanjut!” ajaknya.

Tunis pun meminta pendapatku, “bagaimana bg? Kita jalan lagi?”

Karena memang kondisi fisikku yang masih kelelahan karena lari-lari tadi di oro-oro ombo aku memilih untuk menolaknya, “bentar lagi saja, masih capek ini.”

Karena memutuskan untuk tidak berbarengan mereka pun pamit untuk melangkah duluan, “kalau gitu kami duluan ya mas”.

“Iya mas, semangat!! Nanti kita ketemu disana” balasku.

Bersambung…


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *