Antara Cinta dan Nafsu

Mebiasakan Untuk Cinta atau Nafsu

Sumber Gambar


Ada dua sumber kekuatan terbesar yang dimiliki oleh manusia, yang pertama sebuah energi positif yang bernama cinta, dan selanjutnya energi negatif yang bernama nafsu sebagai penyeimbang kehidupan. Namun kekuatan yang berasal dari nafsu itu bisa dihadirkan kapan saja tanpa harus memiliki sebab untuk sebuah alasan. Berbeda dengan cinta, ia butuh sebuah pembiasaan agar bisa dihadirkan ke permuakaan.

Percaya tidak percaya, cinta itu bisa hadir seiring berlalunya sang waktu. Kita tidak pernah bisa untuk menafikkan kehadirannya, ia bagaikan desiran angin yang menusuk ke selah-selah rongga, bahkan bisa lebih lembut dari itu. Seperti sebuah ungkapan dalam bahasa jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang artinya Cinta Tumbuh Karena Terbiasa.

Sehingga patut untuk dikatakan bahwa jika ingin cinta itu tumbuh, maka biasakanlah terlebih dahulu. Ada pula sebuah pepatah lain yang mengatakan “ala biasa menjadi bisa.” Kedua kalimat diatas menegaskan bahwa semua hal butuh proses, bahkan untuk menumbuhkan tunas-tunas kecil sekalipun, begitu pula terhadap cinta.

Cinta merupakan sebuah energi positif, sebuah karunia Tuhan yang mampu memberi kekuatan bagi makhluk di semestaNya. Karena cinta pada sesuatu hal maka seseorang bisa memiliki motivasi yang besar untuk menggapainya. Cinta memberikan daya tahan, daya gedor, bahkan ia bisa menjadi efek kejut terbesar dalam membangkitkan sesuatu.

Ada satu lagi sumber kekuatan besar yang dimiliki manusia, yaitu nafsu. Namun nafsu itu berdiri rapat dengan cinta, sehingga menjadi sangat sulit untuk membedakan diantara keduanya. Ibarat di sebuah muara sungguh susah membedakan mana batas laut dan sungai. Karena nafsu juga merupakan salah satu sumber kekuatan yang sangat besar, sehingga ada yang menganggap bahwa ia telah melakukan sebuah keburukan karena alasan cinta.

Sungguh cinta itu merupakan kekuatan natural positif, maka akan sangat tidak mungkin ia bisa membawa kehancuran terhadap apa yang dicintainya. Namun kebanyakan orang yang pernah tersakiti oleh orang yang disayangi menjadi sangat takut untuk berurusan dengan cinta, seolah tidak ada lagi cinta bagi mereka.

Ini sungguh pemikiran yang sangat sempit, sebuah konsentrasi otak yang diselimuti sebuah keegoisan atas ketidakbecusan diri sendiri dalam mengelola masa lalu. Yang demikian mereka alami hanyalah sebuah nafsu belaka, tingkah-tingkah konyol yang mereka klaim sebagai sebuah kejahatan yang ditimbulkan oleh ulah cinta.

Oleh sebab demikian sangat penting bagi kita untuk memahami lebih dalam yang manakah cinta dan mana pula nafsu. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka bukan tidak mungkin kita akan membiasakan sesuatu hal yang salah, niatnya membiasakan cinta malah memelihara nafsu.

Contoh-contoh seperti itulah yang dapat mengeluarkan statementbahwa cinta juga memiliki power untuk menghancurkan, sungguh itu tidak benar karena cinta itu damai, yang demikian hanyalah nafsu. Oleh sebab itu mari kita biasakan cinta yang sebenarnya, cinta yang terbebas dari nafsu.

Note: Mohon maaf apabila tulisan ini sulit untuk dicerna atau menyimpang dari pemahaman pembaca. Semua yang tertuang didalam artikel merupan opini dari penulis secara pribadi. Jika ada masukan-masukan yang membngun silahkan dibagikan dalam kolom komentar sebagai pembahuran bagi kita kedepannya dan bagi penulis secara khusus pastinya. Terima kasih


Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *