Pendakian Semeru (The Journey #8)

Mengakhiri Hari di Kalimati
Setelah merasa cukup beristirahat kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, sebenarnya istirahat tidak akan pernah cukup, namun karena hawa dingin yang terlalu menusuk mau tak mau kami harus melanjutkan perjalanan agar tidak semakin berat untuk bangkit. Hampir semua pendaki tahu, jika sudah rebahan di jalur maka sangat sulit untuk kembali bangkit. Itulah alasan kenapa kita membutuhkan manajemen pendakian, supaya kita tidak terlena dengan break ditengah jalan yang bisa berakibat kepada molornya waktu dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Awalnya perjalanan dari cemoro kandang menuju Kalimati tidak begitu terasa karena belum terlalu menanjak, namun lama kelamaan ayunan langkangku semakin berat dibuat olehnya. Ditambah lagi dengan debu halus yang begitu sesak untuk dihirup sehingga buffharus terus dipakai.

Beberapa kali kami memutuskan untuk beristirahat karena aku sudah merasakan kelelahan. Berbeda dengan Tunis, ia masih saja siap dengan fisiknya itu, padahal beban cerrier ku dengannya sangat jauh berbeda, namun apa daya meski usiaku lebih tua namun fisik dia lebih mumpuni.

Agar tidak terlalu sunyi kami selalu membuka obrolan ringan sewaktu beristirahat, semua kami bahas meski tidak penting, tak jarang pula kami bercanda meskipun hanya berdua saja.

“Sepertinya anak-anak Solo tadi sudah jauh ya?” Tanya ku pada Tunis.

“Mungkin bang, sepertinya fisik mereka kuat-kuat” timpalnya.

Karena lagi-lagi kami mengingat bahwa hari akan segere gelap, akhirnya kami memutuskan untuk sedikit memaksakan diri supaya tidak kemalaman di jalur. Namun tak berselang lama kami mendengar sayup sayu suara orang di depan.

“Ada suara orang bang, sepertinya ada yang turun” kata Tunis pada ku.

“Laah jam segini mereka turun mau jam berapa mereka sampai ya!” Sambung ku.

“Mungkin mereka sampai Ranu Kumbolo saja, terus nginap lagi disitu” tambah Tunis.

“Owh bisa jadi” sambung ku lagi.

Lama kelamaan suara tersebut semakin dekat dan kami pun sudah dekat dengan sumber suara. Dan lagi-lagi Tunis lebih dahulu sampai kesana, karena memang dia terus yang berjalan didepan, ia pun memberitahukanku bahwa telah sampai ke lokasi suara berasal.

“Itu mereka bang!”

“Siapa? Orang turun ya?” tanya ku.

“Bukan, anak dari Solo yang bertiga tadi” jawab Tunis.

“Ha, serius?” tanya ku dengan sedikit kaget namun tersenyum.

Aku sedikit kaget kaget karena memang mereka telah berjalan lebih dahulu didepan namun bisa kami susul, yang padahal kami pun telah tertatih-tatih dan banyak berhenti. Ternyata fisik mereka juga tidak seperti yang kami bayangkan diawal, masih imbang-imbang lah dengan kami dan rasanya mereka sangat cocok untuk dijadikan teman barengan. Bukan karena alasan kondisi fisik yang sama saja, namun juga mengingat waktu yang semakin sore.

Tunis langsung saja menghampiri mereka sedangkan aku masih mengerak-gerakkan langkah karena tertinggal dibelakang. Ketika sampai ke tempat mereka break Tunis langsung duduk dan mengatakan kalimat bahwa ia tak sanggup lagi dan sangat capek, namun diucapkannya dalam bahasa Aceh didepan mereka yang kesemuanya orang Jawa.

“*Han ek le, hek that” ucap Tunis sambil merebahkan diri diatas tanah yang sedikit berumput.

Teman-teman dari Solo tadi sontak saja terkejut dengan ucapan Tunis. “Apa mas, apa mas? Coba diulang?”

Sambil tertawa Tunis pun mengulangnya, “Han ek le!”

Mereka semua tertawa terbahak-bahak meskipun tidak ada satupun yang mengetahui artinya, sedangkan aku yang baru tiba hanya bisa tersenyum tipis karena masih kelelahan. Setelah puas tertawa akhirnya Tunis menjelaskan arti kata dari han ek le, yang artinya tidak sanggup lagi. Ketika ditanya alasan apakah mereka paham sehingga tertawa sebegitu semaraknya, semua menjawab tidak ada yang paham, mereka tertawa karena lucu dan terdengar sangat asing ditelinganya.

Setelah puas tertawa akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan berbarengan, disitu kami mulai akrab dan saling berbagi cerita tentang rencana pendakian yang kami lakukan serta membahas gunung-gunung yang pernah dijelajahi masing-masing. Meskipun berasal dari pualau Jawa ternyata mereka juga baru pertama kali melakukan pendakian ke Semeru, sama seperti kami dan cocok lah karena sama-sama newbie di Semeru.

Yang lucunya lagi mereka selalu mengulang-ulang kalimat han ek leyang dicontohkan oleh Tunis ketika mereka mulai merasa kelelahan. Tentu dengan logat mereka sendiri, sehingga pengucapannya membuat kami geli dalam mendengarnya. Sungguh kalimat yang mereka ucapkan sangatlah sulit untuk ku deskripsikan dalam bentuk tulisan. Ketika kami perpas-pasan dengan pendaki lain mereka juga mengucapkan kalimat tersebut, lengkaplah meski kelelahan kami terus tertawa sepanjang perjalanan, sekaligus sebagai pembunuh rasa kesal karena setiap kami bertemu pendaki lain mereka selalu mengatakan bahwa Kalimati masih sangat jauh.

Ketika terus menerus mendapatkan kabar bahwa Kalimati masih jauh, kami mulai ragu apakah kami akan berhasil sampai kesana sebelum hari mulai gelap atau harus berjalan didalam gelapnya malam. Namun rasa ragu itu akhirnya sirna ketika kami sampai di Jambangan, karena setelah Jambangan langsung Kalimati, ketika itu situasi mulai remang-remang. Namun nyatanya perjalanan tetap saja masi lumayan panjang, terlebih hawa dingin semakin menusuk kedalam tubuh dan juga ditambah baju-baju kami yang telah basah karena berkeringat.

Ada satu hal lagi yang semakin menahbah horornya perjalanan didalam keremangan, ada yang mengatakan bahwa mereka baru saja mendengar suara Panthera Pardus, sang macan. Atas saran mereka kami mulai berjalan dengan jarak yang lebih rapat, karena disaat breefing dibawah juga ada disampaikan bahwa macan tersebut hanya berani satu lawan satu. Dengan jantung yang terus dag dig dugakhirnya kami sampai di Kalimati tepat pada pukul 18.00 wib, sudah sangat gelap.

Bersambung…

Thanks For Visit My Blog @coretan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *