Arah Politik Pemilik, Mampukah Media Netral?


Sumber Gambar


Boom, satu lagi orang yang sangat berpengaruh di media terjun ke dunia politik. Entah apa yang ada dibenak Erick Thohir sehingga ia bersedia menjadi ketua tim pemenangannya bakal calon presiden Jokowi – Ma’ruf. Menilik kegemilangannya sebagai pengusaha bahkan sampai menjabat sebagai presiden klub sepakbola Internazionanale, sulit membayangkan bahwa ia akan bersedia turun ke dunia politik lebih-lebih memilih untuk menjadi ketua TKN Tim Pemenangan Nasional bagi kubu petahana Jokowi – Ma’ruf.

Erick Thohir sudah sangat berhasil sebagai pengusaha, sahamnya ada dimana-mana dimulai dari klub sepakbola ternama Inter Milan,sampai ke klub D.C. United di Amerika Serikat. Tak hanya itu ia juga memiliki saham disalah satu klub basket NBA Philadelphia 76ers, ditambahkan lagi beberapa sahamnya di klub-klub olahraga lokal diantaranya Indonesia Warriors dan Satria Muda. Bahkan salah satu klub sepakbola raksasa Indonesia Persib Bandung pun mengalir sahamnya Erick.

Yang menjadi masalah besar ketika Eric Thohir terjun kedunia politik adalah terjadinya ketimpangan media, mengingat sebagai pengusaha sukses ia juga memiliki sebuah perusahaan yang bernama Mahaka Group. Didalam Mahaka Group terdapat beberapa media besar yang tunduk kepadanya seperti media cetak Harian Republika, stasiun televisi JakTV, saluran radio Gen FM, sampai ke salah satu media online terbesar di negeri ini republika.co.id.

Ketika Erick telah berada disalah satu kubu kontestan calon presiden maka secara otomatis media yang dibawah kepemilikannya akan menjaga citra baik sang pemilik. Ini bisa dibuktikan dengan kondisi keberpihakan media arus utama belakangan ini, memang sedikit berburuk sangka, namun itulah realitanya. Bahkan Jokowi sendiri mengemukakan bahwa Erick merupakan sosok pengusaha yang sukses dan mengaitkan media sebagai kesuksesannya disaat memilih Erick sebagai ketua TKN.

Sekjen PDIP juga sempat mengemukan bahwa dengan banyaknya dukungan partai politik dan media dibelakang Jokowi maka akan menjadi sangat efektif untuk menjadikan Jokowi menjabat selama dua periode. Dengan statement yang demikian sangatlah kemana arah media-media dibelakangnya akan diarahkan. Selain partai-partai besar yang mengusungnya sekarang ditambah lagi dengan media-media besar dibelakang pendukungnya, akankah media-media tersebut mampu bertindak independent? Maka jawabannya sangat diragukan, karena ini Indonesia.

Jika kita mengambil contoh terhadap negara super power Amerika Serikat, sebenarnya media disana juga tidak netral alias condong terhadap salah satu kandidat. Disana ada dua media besar yaitu CNN dan Fox yang selalu saling silang pendapat, namun bedanya hal tersebut terjadi karena mereka menjaga komitmen tujuannya masing-masing bukan karena misi politik dari pemilik. Sedangkan di Indonesia arahnya mutlak terhadap dukungan politik yang dilakukan oleh pemiliknya masing-masing.

Bergabungnya Erick Thohir memperpanjang dukungan media terhadap calon presiden yang diusung oleh PDIP dan partai koalisinya. Setelah sebelumnya terdapat pemilik media arus utama yaitu Surya Paloh dengan Media Groupnya, dan juga Harry Tanoe dengan MNC group dibelakangnya. Bayangkan berapa banyak media-media dibelakang masing-masing group tersebut. Jika menilai dari arah dukungan tentu sangat jelas bahwa kubu oposisi telah tertinggal jauh dari kubu petahana dalam mempersiapkan kampanyenya. Namun tentunya kita tidak ingin dukung-mendukung disini, yang kita harapkan adalah berimbangnya pemberitaan media yang memiliki tugas mencerdaskan bangsa, bukan malah condong untuk mekampanyekan sang pemiliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *