Memahami Arah dan Sikap Media


Sumber Gambar


Sebelum kita kembali menjadi korban atas ketidakbecusan awak media dalam memberikan informasi kepada publik, mari sedikit kita meninjau arah gerak media pada pemilu 2014 lalu. Sebuah pertanyaan besar pada empat tahun silam sebenarnya siapa yang kita dukung pada pemilu tersebut, Jokowi – Prabowo atau malah sebenarnya sang pemilik media itu sendiri yang kita dukung.

Coba kita lihat pemberitaan di televisi pada pemilu legislatif kemarin, di Metro TV sendiri sebelum partai Nasdem berkoalisi dengan PDI-P, pemberitaan mengenai Surya Paloh paling banyak didengungkan disana dan semua berita tentangnya merupakan hal positif. Seperti yang kita ketahui Surya Paloh merupak ketua umum Nasdem dan sekaligus pemilik Metro TV dan Media Indonesia.

Kemudian kita melihat bagaimana pemberitaan terhadap Jokowi dan Prabowo disana, bahkan tidak ada satupun berita mengenai mereka disana. Namun setelah terjadi koalisi antara Nasdem dan PDI-P berita mengenai Jokowi langsung saja melejit menjadi yang paling sering diberitakan. Tak hanya itu Jokowi bahkan unggul dalam keseluruhan berita positif mengenai dirinya, bisa dikatakan hingga mencapai 74% sedangkan berita mengenai Prabowo hanya diberikan porsi diangka 12% saja dan itupun diberitakan dengan tidak seimbang baik melalui jumlah sekalipun nada pemberitaanya.

Selanjutnya kita beralih ke salah satu televisi berita lainnya yaitu TV One yang pemiliknya adalah Aburizal Bakrie, pada pemilu 2014 Aburizal Bakrie merupakan ketua umum partai Golkar. Pemberitaan di TV One sendiri awalnya didominasi oleh Jokowi sebelum adanya koalisi antara Golkar dan Gerindra, meskipun pemberitaan mengenai Jokowi banyak namun mayoritasnya dirangkum dalam nada negatif. Sedangkan berita positif paling banyak diinfokan mengenai keberhasilan sang pemilik media itu sendiri yaitu Aburizal Bakrie.

Namun dimanakah pemberitaan tentang Prabowo di TV One, jawabannya adalah sama halnya dengan Metro TV bahwa tak ada satupun berita mengenai Prabowo disana. Namun pemberitaan TV One terhadap Prabowo langsung berubah 180 derjat setelah Golkar memutuskan untuk berkoalisi dengan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Sekali lagi tak hanya paling banyak diberitakan, pemberitaan positif mengenai Prabowo juga berubah menjadi dominan. Hal tersebut justru kebalikan dari pemberitaan terhadap pasangan Jokowi – JK yang mendominasi pemberitaan secara negatif.

Satu lagi televisi yang mendadak mengganti mukanya seiring sikap politik yang diambil sang pemiliknya yaitu RCTI dengan Harry Tanoe. Sebelum Harry Tanoesoedibjo mendukung Prabowo, pemberitaan di RCTI didominasi oleh informasi mengenai sosok Jokowi. Persis sama halnya dengan dua stasiun berita tadi, RCTI tidak memberitakan sedikitpun mengenai tokoh Prabowo. Dan selanjutnya setelah koalisi terjadi pemberitaan mengenai Prabowo seolah dikatrol ke puncak sampai mengalahkan semua kontestan politik lainnya.

Dari apa yang telah kita ulas diatas menunjukkan bahwa arah pemberitaan di televisi senada dengan pergerakan politik pemiliknya. Lantas bagaiman dengan pemilu 2019 nanti, hampir seluruh media televisi terkenal saat ini berpemilik yang arah politiknya mendukung calon petahana Jokowi – Ma’ruf. Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Harry Tanoe dan Erick Thohir keempatnya merupakan pemilik media besar yang dukungan mengarah kepada Jokowi. Jika berkaca pada pemilu 2014 maka secara jelas bahwa tak ada satupun media televisi yang akan memberitakan hal positif mengenai calon presiden dari oposisi Prabowo – Sandi.

Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya bahwa pemilik-pemilik media tersebut menyatakan dukungannya terhadap Prabowo – Sandi, apakah dukungan kita terhadap media-media tersebut juga akan berubah. Atau jangan-jangan semua berita yang kita konsumsi selama ini adalah sesuai dengan arahan pemiliknya. Jika itu yang terjadi masih pantaskah kita percaya 100% kepada media? Mari menjadi cerdas dalam mengkonsumsi berita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *