Media dan Click Bait


Sumber Gambar


Bagi kita yang gemar berselancar di dunia maya dalam memenuhi kebutuhan baik untuk memperoleh informasi maupun sekedar mencari hiburan tentu tidak asing dengan yang namanya klik bait dalam sebuah situs yang kita akses. Walau ada sebagian dari kita ada yang masih merasa asing dengan yang namanyaclick bait namun tentu pasti pernah menemukan hal tersebut disaat mengakses sebuah situs.

Click bait itu sendiri jika diartikan kedalam bahasa Indonesia memiliki pengertian umpan klik, yang berarti pengumpan agar kita melakukan sebuah klik. Tentu untuk mengakses sebuah situs kita harus melakukan klik, hanya saja disini kita diumpani dengan kata lain dipancing agar melakukan klik (seperti ikan yang di kalil) atau juga bisa dikatakan digoda (namun tidak sama dengan wanita penggoda). Dari sini tentu kita telah memahami definisi dari click baititu sendiri yaitu untuk menjebak seseorang atau korban agar mengklik sehingga mengakses situs yang dimaksud. Dengan demikian si pembuat konten atau pemilik situs akan memiliki keuntungan (penghasilan) dengan meningkatnya pengujung pada laman yang dimilikinya.

Kita tidak akan mengulas lebih jauh mengenai click bait, setidaknya pembaca sudah mengerti terhadap definisinya sehingga dapat memahami kelanjutan dari tulisan (coretan) ini seperti judul diatas yaitu Media dan Click Bait. Sebagai tambahan media yang kita maksud disini adalah media massa tempat kita mengakses berita yang ditulis atau disiarkan oleh awak media yang dinamakan dengan jurnalis, jadi jangan menganggap media dengan definisi wadah. Ok cukup kita lanjutkan.

Jika kita mengakses sebuah laman situs web yang berkonotasi negatif seperti kata pencarian viralnya video porno bocah SD dengan seorang tante-tante atau situs penyedia aplikasi gratis yang telah dicrack oleh hacker mungkin sebuah kata wajar bahwa kita akan dipermaikan oleh click bait atau lebih pantas lagi kita katakan “syukurin” atau bahkan kata-kata “mampus lah kau” secara kasar juga masih pantas dan patut diucapkan. Syukur-syukur tidak diserang oleh berbagai virus yang telah disiapkan untuk membuat gadget kita menjadi blank.

Namun hal tersebut (umpan klik) akan sangat disayangkan jika diletakkan pada sebuah media massa penyaji berita kepada khalayak, terlebih jika itu sebuah media arus utama yang telah terkenal atau dikomandoi oleh perusahaan besar. Terlepas dari judul heboh yang mereka hadirkan agar pembaca tertarik untuk mengaksesnya, terdapat pula pemberitaan dengan pemotongan-pemotongan alias dicincang sedemikian rupa aga menjadi beberapa berita. Yang padahal peliputannya hanya terjadi pada sebuah kasus saja.

Kita akan ambil contoh kasus pada laman berita VIVA.co.id, meskipun banyak kasus terdapat pada media lain seperti tribun newsdengan antek-antek perusahaannya yang hampir ada disetiap propinsi, namun caranya berbeda-beda. Kebetulan aku menyiapkan beberapa lembar tangkapan layar sebagai pembuktian bahwa yang mereka lakukan adalah memutilasi sebuah peliputan sehingga menjadi beberapa atau bahkan berpuluh-puluh berita untuk dipublikasikan.

Dibawah ini aku sisipkan sebuah gambar hasil tangkapan layar yang telah ku rangkum menjadi satu dan terlihat bagaimana mereka memotong-motong sebuah berita sehingga menjadi sekian banyak judul. Nyatanya yang dilakukan oleh awak medianya di lapangan hanyalah meliput sebuah kasus dilokasi dan dilokasi yang sama bahkan dengan waktu yang sama pula yaitu “ijtima ulama jilid II”.

Untitled.jpg
Gambar hasil tangkapan layar dari laman berita


Memang mereka memiliki sebuah alasan yang cukup kuat untuk melakukan hal tersebut agar memperoleh pemasukan dengan adanya iklan didalamnya. Namun efek negatif yang bisa ditimbulkan juga besar bagaimana narasi mereka sangatlah singkat-singkat dalam memberitakan, seperti sekilas info jika di RCTI. Para pembaca tidak akan memperoleh pemberitaan yang cukup karena mereka belum tentu mengakses kelanjutan atau sisi lain berita yang diterbitkan di alamat situs yang berbeda. Menurut hemat ku secara dungu, media online yang seperti bukannya mencerdaskan tapi malah memperbodoh bangsa.

Selain sisi materi alias penghasilan besar yang mereka targetkan aku secara pribadi masih kurang paham dengan tujuan lain yang ingin mereka capai. Atau kah memang warga net di Indonesia memang hobi membaca berita yang demikian, wallahualam. Karena yang pastinya satu hal lagi yang ditimbulkan dengan cara pemberitaan yang demikian adalah sebagai media berperangnya antara cebongdan kampret pada kolom-kolom komentar yang tersedia, jika itu pemberitaan politik seperti contoh yang aku tampilkan diatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *