Pendakian Semeru (The Journey #9)

Dinginnya Kalimati
Cuaca di Kalimati sangat dingin bahkan sampai menusuk kedalam sum sum tulang, begitu kutanggalkan cerrier dari pundak langsung saja tubuh ku dibuatnya. Aku harus mengerakkan badan kesana kemari untuk membunuh rasa dingin tersebut, sesegara pula ku keluarkan sebatang rokok agar bisa sedikit mengontrol hawa tubuh pikir ku, namun tetap saja hal tersebut tidak terlalu membantu. Aku melihat Tunis mulai sibuk mengeluarkan tenda dari dalam cerriernya, sedangkan aku masi mencoba untuk menaklukan hawa dingin Kalimati.

Tak lama kemudian aku melihat ia mulai kewalahan dengan tenda yang tengah didirikannya, kerana memang ia melakukannya seorang diri. Akhirnya mau tak mau aku harus bangkit untuk membantunya, namun tetap saja kami masih agak kewalahan karena situasi sudah sangat gelap. Teman-teman dari Solo juga sedikit kewalahan dengan tendanya, mereka juga tak kunjung berhasil mendirikan tenda dan masih ada yang sibuk mencari senter untuk penerangan. Kemudian kami memilih untuk bekerja sama dan memutuskan untuk mendirikan tenda kami terlebih dahulu secara barengan kemudian membantu mendirikan tenda mereka setelahnya.

Perlahan hawa dingin itu menyusut karena kami telah sibuk dengan mendirikan tenda, aku sudah tidak seberapa menggigil lagi dan tenda kami pun berhasil didirikan. Ketika kedua-dua tenda kami telah sukses didirikan tanpa pikir panjang lagi langsung saja kami masuk kedalam untuk menghangatkan diri, mengeluarkan jacket dan semua kebutuhan agar tubuh menjadi hangat, seperti kupluk, sarung tangan, mengganti baju dan juga kaos kaki. Ketika semua telah rampung kamipun segera mengeluarkan peralatan masak, karena memang selain jam makan malam telah tiba, perut pun sudah tidak bisa kompromi lagi.

Namun naasnya ketika beras telah disiapkan untuk dimasak, kompor kami malah berulah, ketikan dipasangkan gas ia malah keluar dengan sendirinya. Sontak saja kami langsung panik, kenapa bisa seperti ini disaat-saat genting. Padahal sebelumnya kompor kami baik-baik saja dan tidak ada kendala apa-apa, Tunis sampai kepikiran untuk mengisi perut dengan mie instant tanpa dimasak.

“gimana ini bang? Apa kita makan mentah-mentah saja, kok bisa gini ya kompornya” ujar Tunis kepada ku.

Aku juga sedikit kebingungan kenapa bisa sampai demikian. “mungkin karena kamu tidak benar dalam melakukan packing dalam cerrier sehingga goyang dan terantuk-antuk ketika dimasukkan kedalam bagasi pesawat ketika di bandara, tapi gila aja kalau kita harus makan mentah-mentah, mana ada tenaga kita buat summitsebentar lagi.”

“terus gimana dong?” timpal tunis lagi.

“coba kamu tanya teman-teman tadi, apa mereka sudah selesai masak, jika sudah minta pinjam sebentar kompornya” sambung ku memberi solusi.

Akhirnya Tunis meminta bantuan kepada teman yang dari Solo tadi, dan alhamdulillah ternyata mereka membawa 2 kompor. Akhirnya kami tidak perlu menunggu sampai mereka selesai masak baru bisa kami pinjam. Setelah mendapatkan kompor pinjaman tersebut kami langsung memasak nasi dan mempersiapkan lauk untuk dimasak selanjutnya setelah nasi matang. Sebenarnya bukan kami, melainkan Tunis karena dia memang sangat hobi dalam hal masak memasak kecuali dia sedang ingin tidur. Akhirnya semua kulepaskan sama Tunis, dia membuat telur dadar sebagai pengganti ikan dan memasak mie instant sebagai pengganti kuah, karena memang kedua menu ini sangat simple dan paling mudah dimasak sebab menghemat waktu terlebih dimasa-masa perut sudah sangat keroncongan.

Selesai semua menu dimasak kami berdua langsung menyantap makanan tersebut selagi masih hangat dan juga karena alasan perut yang sudah sangat krak krik kruk tentunya. Usai menyantap makanan kamipun beristirahat karena memang target untuk ke puncak pada pukul 00.00, dan saat ini jarum jam menunjukkan pukul 20.00 dan suasana diluar tenda juga sangat hening, mungkin karena semua tengah beristirahat untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuju puncak.

Baru sebentar berbaring saja aku langsung tak sadarkan diri seolah pingsan dalam alunan kesejukan Kalimati. Namun itu tak berlangsung lama, seolah baru memejamkan mata aku kembali terbangun karena leher ku sakit sebab salah posisi, ya namanya juga tidur dalam tenda, bagi yang pernah mengalaminya tentu paham dengan apa yang kualami. Aku sempat melihat jam di tangan ku dan ketika itu masih pukul 22.00 yang kukira baru merem sebentar ternyata aku sudah tertidur selama 2 jam, namun tak lama aku langsung kembali hilang didalam tidurku.

Lagi-lagi seolah baru memejamkan mata terdengar Tunis memanggil namaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. “bang, bang, bangun yuuk kita siap-siap untuk ke puncak.”

Dengan berat aku kembali terbaksa untuk membuka mata dan kembali kulihat jam di tangan ku, ternyata jam baru menunjukan pukul 23.30 dan aku menjadi kesal karena menganggap ini terlalu cepat. “baru setengah du belas Nis, bentar lagi aja kita gerak” sahut ku dengan nada kesal.

“tapi orang-orang udah pada berangkat bang”. Sambung Tunis.

Akhirnya aku memaksakan diri untuk bangkit dan bersiap-siap karena memang kami membutuhkan orang lain dalam perjalan ke puncak karena belum paham dengan jalur. Kami mempersiapkan beberapa bungkus roti dan beberapa botol minuman sebagai bekal dalam perjalanan dan untuk sarapan ketika di puncak. Ketika semuanya telah beres akhirnya kami keluar tenda dan ternyata mendapati teman-teman dari Solo juga telah siap untuk berangkat. Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan bersama di tengah gelapnya malam dan dinginnya Kalimati.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *