Dirgahayu TNI (Coretan pada TNI)


Sumber Gambar


Mengawali coretan di 5 oktober ini aku ingin mengucapkan Dirgahayu 73 tahun Tentara Nasional Indonesia, baik-baik dengan rakyat, bersama rakyat TNI kuat. Semoga asa di atas yang juga sering digaungkan oleh TNI sendiri merupakan sebuah realita fakta dan bukan sebuah ilusi atau pengharapan semata, karena TNI berasal dari rakyat dan untuk rakyat (nusa bangsa pula ia mengabdi.

Bertepatan dengan momen hari ulang tahun kesatuan tentara nasional republik ini aku ingin menguraikan beberapa sudut pandang ku sebagai masyarakat sipil awam terhadap kiprah atau karakter TNI secara umum dan khususnya korps angkatan darat, karena sejatinya memang mereka yang paling banyak terlibat secara langsung dengan warga sipil. Secara semenjak era orde baru berkuasa TNI telah disisipkan diberbagai sendi organisasi masyarakat dan itu berlaku sampai dengan sekarang.

Sebutkanlah yang paling bantet sampai mencapai tingkat kecamatan yaitu koramil yang setingkat dengan camat dan polsek jika dalam kepolisian. Sehingga bisa dipastikan tidak ada hal yang tidak dijamah oleh TNI, dan jika dilihat melalui kacamata positif mereka juga turut andil dalam berbagai kegiatan masyarakat dan menjadi garda pertama yang menghalau segela kemungkinan buruk yang bisa mengancam keutuhan negara.

Baiklah kita balik ke persepsi ku mengenai TNI, semenjak kecil aku sangat mengagumi sosok berpakaian loreng yang menenteng senapan panjang (M16 kala itu). Sehingga aku pernah bercita-cita agar kelak ketika dewasa aku bisa ikut andil untuk menjadi bagian dari mereka, sosok yang keren, badan tegap dan wajah sangar yang ditakuti lawan serta dikagumi kawan. Tidak ada alasan bagi anak-anak untuk tidak mengagumi sosok seorang tentara kecuali mereka yg tipe penakut alias agak sedikit bencong. ~hehe

Semenjak duduk di bangku sekolah dasar pula aku mulai memenuhi halaman belakang buku tulis ku dengan gambar om om berbaju loreng bersenjatakan laras panjang. Bahkan jika teman-teman lain menjawab ingin menjadi dokter, guru, dan sebagainya ketika ditanya cita-cita, aku malah dengan tegas menjawab ingin menjadi tentara. Tentu anak-anak bebas berimajinasi dikala itu, toh mereka tidak tahu menahu akan bagaimana kondisi kehidupannya kelak.

Ketika aku mulai beranjak naik kelas antara 5 atau kelas 6, konflik di Aceh mulai berkecamuk kian besar dan bahkan mulai dilarangnya kegiatan sekolah pada hari jum’at, dan itu pula usia-usia dimana aku mulai mengerti keadaaan sekitar, kalau tidak salah diantara tahun 2001 atau 2002. Keadaan kala itu membuat aku lebih simpati kepada GAM yang melawan pemerintah ketimbang TNI yang membela pemerintah untuk memerangi GAM. Seketika kala itu aku mengalihkan cita-cita ku dari semula ingin menjadi TNI malah lebih mendukung pemberontak. ~namanya juga anak-anak

Lanjut ketika menduduki bangku sekolah menengah pertama, disana kebetulan teman sekelas ku ada yang demen terhadap TNI, walau badannya kecil dan berpostur pendek ia tak segan-segan untuk mengatakan bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang TNI. Disitu aku kembali mengagumi sosok TNI yang pernah aku benci diakhir-akhir sekolah dasar, corat-coret dibelakang buku tulis ku pun meningkat dari semula seorang prajurit berubah menjadi gambar tank dan helicopter serta bahkan terkadang penuh dengan sebuah armada tempur yang bersiap untuk berperang.

Meski kondisi keamanan di Aceh ketika itu sangat genting dan bahkan dentuman senjata dimana-mana, kondisi kehidupan di perkotaan yang aku alami lebih sedikit aman ketimbang saudara-saudara lain di pedesaan. Jika anak-anak lain di desa lebih dekat dengan GAM maka kami di kota malah lebih dekat dengan TNI, apalagi jika berdekatan dengan pos pasukan kavaleri, sudah pasti kami berkesempatan untuk menjajaki tank-tank yang di parkir di pos. Kedekatan prajurit-prajurit yang berada disekitar lingkungan kota terhadap anak-anak membuat kami nyaman untuk bermain bersama mereka seolah melupakan konflik besar yang tengah mendera bumi Aceh.

Akhirnya di 2005 pemerintah bersama GAM menandatangani perjajian damai dan menghentikan konflik berkepanjangan di bumi para pahlawan. Ketika telah remaja aku baru memahami dengan sebenarnya bagaimana kiprah TNI dalam melumat warga sipil tak berdosa, pembantaian-pembantaian mulai terkuak dan informasi mengenai pelanggaran ham mengalir deras di telinga berbagai kalangan. Sampai akhirnya aku tumbuh dewasa saat ini (tapi belum tua) akhirnya mataku mulai terbuka lebar terhadap plus minus sepak terjang prajurit TNI.

Lantas bagaimana sikap ku terhadap TNI sekarang ini, masih kagum atau menjadi lebih benci setelah memahami semua kenyataan yang ada. Setiap perilaku negatif dalam tubuh TNI adalah ulah oknum, begitu pula setiap perilaku positif yang ada disana. Sejatinya fungsi didirikan kesatuan TNI adalah bertujuan baik untuk menjaga keamanan dan ketahanan negara dari ancaman asing. Aku secara pribadi hanya bisa menyampaikan harapan agar TNI bisa digunakan sebagai alat negara sebagaimana mestinya, dan sesuai dengan kalimat yang sering mereka umbar baik-baik dengan rakyat, bersama rakyat TNI kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *