Pentingkah Literasi Media


Sumber Gambar


Media massa di Indonesia berkembang tumbuh pesat bak jamur yang tumbuh di musim penghujan, mudahnya pengurusan izin dan siapa saja yang memiliki modal dapat membangun sebuah media juga menjadi alasan utama kenapa media di Indonesia dapat bertebar bagaikan debu yang hembus angin. Jika perusaahan media arus utama saja terdapat puluhan apalagi anak perusahaannya yang bisa mencapai ratusan bahkan memiliki biro masing-masing di setiap kota juga laman situs terkhususnya sendiri.

Selain anak perusahaan dari media arus utama disetiap provinsi terdapat pula berbagai media lokal yang mendominasi disana, bahkan tak tanggung-tanggung di kota tempat tinggal ku sendiri terdapat puluhan media lokal yang di miliki oleh pengusaha maupun wartawan senior. Media-media lokal seperti ini kebanyakan memanfaatkan media sosial sebagai alur promosinya yang mengandalkan like and share, sehingga peran akun official media sosial sangat mempegaruhi penyebaran berita yang mereka terbitkan.

Fenomena yang terjadi adalah seringnya mereka mengangkat sebuah berita yang mengundang penasaran pembaca sehingga tertarik untuk membuka tautan yang dibagikan melalui dinding beranda media sosial baik itu fb, ig, dan sebagainya. Mereka juga sering mengabaikan kaidah-kaidah jurnalistik dalam mengeluarkan berita, pemehaman tentang dunia jurnalistik menjadi nomor dua setelah viralkan berita terlebih dahulu. Dalam perekrutan wartawan lapangan juga terdapat berbagai kejanggalan seperti para pewarta sim sala bim yang asal jadi, asalkan mereka mampu menulis maka jadilah sebagai seorang jurnalistik.

Maraknya fenomena yang demikian membuat biasnya berita yang hadir ke dalam lingkungan masyarakat, sering terjadinya miss komunikasi karena asal telan berita mentah-mentah tanpa pikir panjang. Belum lagi dengan budaya malasnya membaca pada bangsa ini, acap kali terlihat bahwa orang-orang hanya membaca judul kemudian langsung menyimpulkan isi berita dari hasil amatan buta pada judul semata. Kemudian juga budaya langsung share alias bagikan tanpa meninjau keakuratan berita yang diperoleh menjadi problematika selanjutnya yang menyebabkan semakin tersebarnya berita-berita palsu atau yang sering disebut hoax dan semakin memperpanjang kebodahan sebab mis informasi yang diperoleh.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru karena sudah mulai terjadi dari beberapa tahun yang silam dimulai dari hebohnya wartawan asal jadi yang sering disebut wartawan sim sala bim sampai kepada maraknya berita hoax dewasa ini. Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut yang ingin menjadi perhatian ku disini adalah sudah pantaskan literasi media masuk ke dalam kurikulum sekolah. Karena sejatinya pemahaman mengenai melek media sudah harus ditanamkan sejak usia remaja sebelum mereka semakin terjerumus semakin dalam ke arah penggunaan media yang salah.

Dulu masih ada mahasiswa ilmu komunikasi yang gencar mengkapanyekan literasi media yang mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan smart dalam menggunakan media. Agar arus informasi yang globalisasi ini tidak menjadi penyakit dalam masyarakat sebab dengan globalisasi lah seharusnya masyarakat bisa lebih pintar. Namun belakangan aksi para mahasiswa juga banyak sudah tenggelam, mulai redup dengan yang namanya kegiatan-kegiatan yang berbau literasi. Kemanakah mereka sekarang, semoga mereka masih ada dan tetap paham akan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *