Keteguhan Hati Miftahul Jannah


Sumber: Serambi News


Dalam dua hari ini terdapat beberapa berita yang sangat viral di dumay dunia maya yang mampu menghebokan warga net, yang pertama tentang keberhasil seorang petarung UFC muslim Khabib asal Rusia yang mampu menaklukkan kesombongan Mc Gregor dan aksi Khabib yang menghajar tim offcial lawan karena telah mencaci Ayah dan Agamanya. Yang kedua tragedi memilukan yang terjadi di laga Judo pada Asian Para Games 2018 yang mana Miftahul Jannah dilarang bertanding alias di diskualifikasi karena enggan melepas kerudung yang digunakannya. Yang terakhir adalah video viral sang presiden republik yang dianggap salah dalam mengucapkan Al-Fatihah menjadi Alfatekah.

Namun aku tidak akan mengulas mengenai video viral yang melibatkan presiden Jokowi, aku tidak (belum) tertarik sama sekali dengan polemik tersebut dan biarkanlah cebongers dan kampretersyang berjibaku disana. Toh ilmu agama ku juga masih dangkal dan biarlah para pemuka agama yang memutuskan apakah pengucapan yang demikian itu benar atau tidak dan kita mengikuti saja setiap fatwa yang mereka keluarkan, kerena mereka (para pemuka agama) yang lebih memahami mengenai hal tersebut. Aku sudah menyatakan tidak tertarik namun bisa sampai satu paragraf juga terisi dengan hal tersebut lol. Baiklah kita alihkan padangan kita kepada salah satu jagoan yang telah membela Agama Nya dengan caranya sendiri yaitu Miftahul Jannah atlet kategori tanding Blind Judo dalam Asian Para Games 2018.

Miftahul Jannah di Diskualifikasi

Atlet blind judo asal Aceh yang mewakili Indonesia dalam ajang Asian Para Games ini menjadi sorotan banyak pihak lantaran di diskualifikasi sebab tidak mau melepaskan hijabnya untuk bertanding. Mifta memang telah gagal memenuhi asa banyak orang karena tidak mampu menghasilkan medali dalam cabang judo, namun ia telah berhasil mencuri hati banyak pihak lantaran keteguhan hatinya yang memilih untuk mempertahankan prinsip ketimbang mengikuti peraturan pertandingan namun melanggar peraturan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditetapkan dalam agamanya. Secara pribadi aku sendiri terharu melihat kejadian ini, meski memiliki kekurangan namun ia memperlihatkan bagaimana kelebihan sesungguhnya yang ia miliki. Mifta lebih memilih untuk tidak terlihat di dunia ketimbang tidak mau dipandang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak.

Yang menjadi polemik adalah anggapan beberapa pihak karena telah menganggap bahwa pihak juri melakukan diskriminasi kepada Mifta lantaran menyuruhnya untuk melepaskan jilbab jika ingin ikut bertanding. Namun pihak juri memiliki alasannya tersendiri mengapa melarang Mifta untuk bertanding jika engga melepaskan hijabnya, mereka beralasan bahwa hijab dapat membayahakan atlet dalam pelaksaan pertandingan. Ketentuan tersebut memang telah ada dalam aturan Internasional di Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA). Mereka berdalih tidak ada diskriminasi disana karena semua dilakukan semata untuk melindungi atlet dari ha-hal yang tidak dinginkan karena bisa menimbulkan bahaya jika mengenakan jilbab.

Setelah menjadi sangat viral Mifta pun akngkat bicara kepada khalayak ketika bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi. Dalam video singkat yang diunggah Menpora Mifta menjelaskan bahwa ia melanggar aturan namun lebih memilih untuk mempertahan prinsipnya. Pernyataannya tersebut menghasilkan decak kagum dari Menpora dan juga berbagai pihak, ia mengakui bahwa regulasinya memang demikian namun ia juga memiliki prinsip yang harus dipertahankan. Atas keteguhannya mempertahankan perintah Allah ketimbang regulasi yang ditetapkan dalam pertandingan itulah ia dipenuhi berbagai komentar positif dari banyak kalangan, bahkan ia telah mendapatkan hadiah tiket gratis dari Ustadz Adi Hidayat untuk menjalankan umrah bersama dengan kedua orang tuanya.

Dalam sebuah video yang diunggah sendiri oleh UAH (panggilan Ustadz Adi Hidayat) beliau mengatakan bahwa jilbab nya lah yang telah mengantarkan Mifta untuk berangkat ke tanah suci Mekkah Al Mukarramah, bukan karena prestasinya sebagai atlet dan sebagainya. UAH juga menyatakan bahwa hadiah umrah yang disiapkan olehnya juga diberikan untuk kedua orang tuanya dan jika ia tidak memiliki orang tua lagi maka ia boleh memilih dua orang wali untuk mendampinginya ke tanah suci. Sungguh yang dilakukan oleh Mifta adalah pertarungan yang sebenarnya yang bagaimana keteguhan hatinya mempertahankan hijab serta merepresentasikan wanita Aceh dimata dunia sebagai Aceh yang memang pantas dijuluki serambi mekkah, dan ia juga telah menunjukkan kepada dunia bagaimana Indonesia yang sebenarnya, bukan hanya sebagai negara komunitas muslim tersebesar saja namun juga teguh menjalankan perintah Agamanya. Semoga ia selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *