Stop Mengejar Rating Pada Musibah dan Bencana


Sumber Foto: Majalah Dunia


Bencana maupun musibah yang silih berganti di bumi pertiwi seolah menjadi komoditas tersendiri bagi para pencari like dan click bait di negeri ini. Sebagian besar ada yang memanfaatkan berita-berita palsu atau hoax untuk menarik orang agar membuka, like, dan shareinformasi yang mereka bagikan. Ada pula yang mengangkat isu-isu provokatif untuk membumbui informasi yang disuguhkan, juga ada yang sampai dengan berandai-andai menggunakan skenario pribadi yang sangat dangkal.

Tak hanya mereka yang memanfaatkan media sosial atau akun vlog pribadi, yang lebih parahnya adalah sampai ke awak media juga mengolah beritanya menjadi sedemikian rupa untuk menarik perhatian publik ke media mereka. Contohnya seperti mendramatisir tayangan-tayangan khusus untuk mencerca keluarga korban dengan pertanyaan-pertanyaan yang memilukan, sampai pihak keluarga mengeluarkan linangan air mata dalam menjawab setiap lontaran pertanyaan yang mereka keluarkan pun dimanfaatkan sebagai skenario tayangan.

Tidak banyak yang peduli dengan derita kesedihan yang tengah dialami oleh keluarga korban karena harus kehilangan sanak saudaranya. Mereka hanya peduli kepada rating yang tinggi semata, seolah-seolah semakin besar kesedihan yang didapati dari keluarga korban akan meningkatkan kualitas berita untuk menjadi lebih baik. Mereka dengan santainya melakukan zoom out terhadap wajah dengan linangan air mata tanpa peduli terhadap perasaan narasumber yang tengah diwanwancarainya.

Fenomena tersebut diatas tengah marak terjadi di Indonesia, meski masih ada beberapa diantaranya yang berniat baik untuk memberikan informasi terkini yang eksklusif, namun ketidak pahaman terhadap gejolak perasaan keluarga korban menjadi sebuah bencana lain yang hadir untuk mereka yang tengah dirundungi kesedihan. Alih-alih memberika berita baik malah kebanyakan terjadi sebaliknya yaitu menambah derita.

Sedangkan untuk penebar hoax memang sudah tak tahu lagi apa yang hendak dikatakan kepada mereka. Dari perbuatannya yang menebarkan berita bohong saja sudah jelas-jelas merupakan sebuah kesalahan dan termasuk perbuatan yang sangat dimurkai oleh agama apapun. Namun tidakkah sedikit saja mereka menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan kemaslahatan atau bagaimana berkecamuknya hati keluarga korba ketika menerima informasi palsu yang mereka viralkan dengan mudahnya.

Tidak media mainstream tidak pula media abal-abalan yang sok-sokan menjadi media melalui sosial media bertingkah sama saja yaitu meremukkan hati korban/keluarga korban serta menambah-nambah penderitaan yang tengah dialami oleh saudaranya yang tengah ditimpa musibah. Sudahlah, jika kita tidak mampu berbuat kebaikan maka sebaiknya tidak usah pula kita menambah-nambah kemudharatan. Sisanya tak perlu pula kita ikut-ikutan untuk melakukan share sebuah informasi yang belum tentu jelas asal usul sumbernya.

Jika informasi yang demikian sampai ke kita maka stopkan untuk di kita saja, tidak perlu kita meneruskan rantai kebohongan dan kebodohan yang mereka ciptakan. Mari bijaklah menggunakan media sosial, karena sejatinya fungsi sebuah alat/media itu tergantung si pemakaiannya, baik ia menggunakan maka baik pula hasil/dampak yang ditimbulkan dan begitu pula sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *