Cebong dan Kampret


Sumber Gambar


Semenjak pergolakan yang terjadi kala kasus penistaan agama menimpa Ahok pada 2016 silam seolah warganet di Indonesia mutlak hanya diisi oleh dua kubu yang selalu berbenturan. Yang satunya menamakan lawannya cebong dan sebelahnya menamakan rivalnya kampret. Menurut amatan awam yang aku lakukan tanpa mempedulikan metode penelitiaan ilmiah itulah yang kudapatkan saat ini.

Awal mula bisa dikatakan kasus Ahok lah yang membuat blok antar warganet dan kemudian disusul dengan gelombang ketidak puasan terhadap kinerja pemerintah Joko Widodo yang kerap disapa Jokowi. Jokowi dianggap salah satu pihak yang membela Ahok sebagai rekannya sewaktu masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta dan Ahok sebagai wakilnya, meskipun setelah aksi berjilid – jilid yang dilakukan oleh berbagai ormas untuk menutut agar Ahok diadili akhirnya Presiden Jokowi hadir dalam aksi 212.

Seiring dengan kondisi yang demikian semakin membuat blok antara netizen yang mendukung setiap kebijakan Jokowi dengan mereka yang menentangnya. Sampai – sampai berbagai agenda dan penyebaran berita hoax berebaran dihampir segala lini media sosial untuk saling menjatuhkan, tak jarang isu – isu yang sangat sensitif dimainkan disana demi memuaskan hawa nafsu masing – masing.

Jika kita menelisik sampai hari ini seolah pengguna internet di Indonesia tidak ada yang tidak berpihak ke salah satu kubu, setiap pengguna internet seolah sah hanya diisi oleh cebong dan kampretsaja. Mungkin jika dalam penggunaan media sosial obrolan seperti whatsapp kita masih bisa memilah tergantung grup apa yang kita tempati, namun tidak dengan media yang memiliki kolom komentar seperti facebookinstagram, maupun twitter.


Sumber Gambar


Apapun yang disebarkan melalui ketiga media sosial yang aku sebutkan diatas selalu dihadiri oleh debat kusir yang tidak berujung antar kedua kubu. Contohnya saja dalam hal prestasi timnas kemarin yang begitu jeblok dalam turnamen piala AFF lantaran tidak adanya pelatih yang matang atau persiapan yang memadai dalam mengahadapi turnamen tersebut. Namun didalamnya kolom komentar malah lebih disibukka antara kinerja petahana dan oposisi yang dikait – kaitkan tak menentu.

Tak hanya dalam berita olahraga saja, bahkan dalam hal pernikahan artis juga dipenuhi perdebatan yang demikian. Seolah dunia internet di Indonesia begitu monoton yang hanya diisi oleh dua kaum tersebut dalam segala lini, apalagi masalah yang menyangkut dengan agama sudah tentu lebih panas lagi perdebatannya, padahal jika kita telaah lebih mendalam dua – dua tidak paham perihal agama karena hanya memakan isu murahan yang beredar akibat share sana sini.

Intinya kemana pun kita pergi, situs web apapun yang kita akses, selama ada kolom komentar pasti ada cebong dan kampretdidalamnya. Bahkan sekarang ini mereka mulai bangga dengan julukannya yang disematkan antara satu sama lainnya.

Well dibalik semua itu aku masih menemukan sebuah media sosial yang terlihat lebih adem untuk kita naungi, iya inilah di tempat aku memposting tulisan ini, steemit. Mungkin pengguna steemit lebih sehat karena diisi oleh orang – orang yang memiliki intelegensi tinggi, karena jika tidak tentunya mereka sudah mundur sebab ketidak pastian dan tidak adanya debat kusir yang tidak penting didalamnya. Sebab mereka yang suka membuat kericuhan sangat tidak tenang jiwanya jika tidak berdebat walau hanya dalam satu hari saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *