Tidak Seriusnya Pemerintah dalam Menanggulangi Pra Bencana


Sumber Gambar


Musibah yang silih berganti menerjang bumi pertiwi seolah tidak menjadi sebuah pembelajaran bagi pemerintah Indonesia. Semenjak bencana tsunami terbesar dan menelan korban yang tidak sedikit pada 2004 silam menerjang tanah rencong propinsi Aceh terlihat perilaku pemerintah lebih sigap mengobati luka ketimbang menjegahnya.

Deretan bencana alam mulai dari gempa bumi dan tsunami terus menghantui masyarakat Indonesia sejak musibah itu terjadi di Aceh tepat 14 tahun yang lalu. Namun sampai bencana tsunami menerjang Padeglang, Serang dan Lampung beberapa hari yang lalu pemerintah masih terlihat eleh dalam menangani bencana alam.

Eleh atau sepele yang dimaksud bukanlah penanganan pasca bencana terjadi melainkan proses antisipasi sebelum bencana tersebut datang. Contohnya seperti pengadaan alat – alat pendeteksi tsunami yang mumpuni untuk dapat memperingatkan masyarakat sebelum musibah datang.

Semenjak musibah tsunami terjadi di Palu beberapa bulan yang lalu presiden Joko Widodo terus mengulang narasi perintah terhadap bawahannya untuk menambah alat pendeteksi yang bisa memberikan peringatan secara dini ke masyarakat. Namun perintah yang diberikan seolah hanya berupa wejangan tanpa pilar untuk menyakinkan masyarakat bahwa pemerintah telah peduli dan terus berusaha memperbaki sistem penanggulangan bencana.

Sedangkan sisi realitanya hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan anggaran yang dikucurkan terhadap lembaga atau badan – badan terkait yang menangani bencana. Anggaran untuk lembaga tersebut terus dipangkas sedangkan dana yang dibutuhkan untuk menambah alat pendeteksi bukanlah sedikit. Bahkan dalam rancangan APBN 2019 terhadap Badan Metereologi Klimatologi dan Geosfisika (BMKG) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) di DPR kembali dipangkas.

Hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat karena terlihat pemerintah seolah tidak serius dalam melindungi warga negaranya. Kita bisa berkaca dari negeri sakura Jepang yang sangat sigap dalam mengantisipasi bencana, sebelum bencana datang mereka telah terlebih dahulu memperingatkan masyarakatnya sehingga meminimlisir jumlah korban jiwa. Namun untuk mengikuti jejak langkah negeri samurai biru tersebut pemerintah harus benar – benar serius termasuk dalam hal pengalokasian anggaran.

Sedangkan realita yang terjadi dewasa ini pemerintah terus mengorbankan jiwa warganya dengan hanya sigap dalam menangani musibah pasca bencana ketimbang pra bencana menerjang. Setelah deretan musibah yang terjadi semoga pemerintah kita bisa terus belajar dari banyaknya pengalaman yang menghapiri. Seperti kata pepatah ”lebih baik mencegah dari pada mengobati”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *