Kurangnya Ilmu Hanya Memicu Perdebatan yang Tak Bermafaat


Sumber Gambar


Isu – isu keagamaan selalu mencuat pada hari – hari besar tertentu, seperti yang baru saja diperdebatkan pada perayaan hari raya umat nasrani beberapa hari yang lalu, ada yang memperbolehkan untuk memberikan ucapan kepada mereka yang merayakan dan adapula yang melarangnya. Namun semua pernyataan para petinggi agama tersebut bukanlah asal bunyi melainkan berdasarkan peninjauan dari keputusan para ulama.

Kenapa hal yang demikian terjadi di Indonesia sedangkan mayoratis penduduk negeri ini menganut agama islam. Sebenarnya pertanyaan yang demikian sangatlah mudah terjawab, sebab Indonesia bukanlah negara islam meski memiliki populasi muslim terbesar di dunia dalam suatu negara. Terlebih dengan aturan demokrasi yang membenarkan siapa saja untuk mengemukakan pendapat, maka akan menjadi suatu blunder tersendiri ketika terjadi polemik di tengah masyarakat.

Jika kita meninjau ke atas alias pada pemuka – pemuka agama yang mengeluarkan suatu pendapat sebenarnya mereka saling bersikap lunak dan memaklumi setiap perbedaan pendapat selama memiliki dalil masing – masing yang kuat untuk dipegang. Namun jika kita tinjau ke bottom yaitu pada masyarakat maka akan kita dapati berbagai pro kontra yang sebenarnya tidak perlu terjadi, sebab islam hadir sebagai agama dengan kesempurnaan mutlak yang tidak bisa dikotak – katik ulang.

Kekisruhan yang terjadi sebenarnya disebabkan oleh kurangnya ilmu dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat, ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih banyak yang awam dan harus belajar lebih banyak lagi. Ini berlaku bagi mereka yang melakukan perdebatan dengan kedua pihak yang mempertahankan pendapat dari ustadznya masing – masing. Sedangkan bagi mereka yang sekular dan telah memisahkan antara agama dan kehidupan sosialnya maka ini tidak perlu diperdebatkan melainkan harus diajak mereka untuk kembali ke jalan agama.

Setelah perayaan natal pada beberapa hari yang lalu maka beberapa hari kedepan kita akan menemui sebuah perayaan besar lagi yaitu tahun baru masehi. Belum selesai perdebatan mengenai boleh tidaknya memberi ucapan selamat terhadap umat nasrani pada perayaan hari raya natal mereka kedepannya kita akan menemukan perdebatan baru tentang boleh tidaknya merayakan tahun baru masehi.

Boleh tidaknya ikut merayakan atau boleh tidaknya ikut mengucapkan sebenarnya bisa kita kembalikan ke diri kita masing – masing, keluarga dan orang – orang terdekat sembari terus menimba ilmu agar tidak salah langkah dalam menentukan sikap. Mempertegang urat lehar disana – sini dengan orang yang tidak kita kenal sebenarnya merupakan sebuah kebodohan yang akan menjerumuskan kita kedalam jeratan setan untuk meningkatkan emosi diri kita.

Rasullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya:

Saya menjamin rumah di surga bawah, bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar; dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan berdusta, sekalipun untuk bercanda; serta rumah di surga atas bagi orang yang bagus akhlaknya (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Semoga hadits diatas bisa membuka pikiran kita untuk menjauhi perdebatan dalam bentuk apapun sekalipun kita berada pada posisi yang benar. Sebab nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalamsangat membenci mereka orang – orang yang suka melakukan perdebatan.
Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *