Mendaki Gunung dan Tetap Ta’at Kepada Allah ﷻ


Sumber Foto: pixabay


Kegiatan mendaki gunung sekarang ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi berbagai kalangan, apalagi untuk golongan anak – anak muda millenial. Mendaki gunung bukan lagi hanya sekedar hobi bagi mereka melainkan sudah menjadi trend tersendiri hingga layak dikatakan sebagai sebuah gaya hidup. Sebagian besar ketika ditanyai alasan untuk mendaki mereka selalu mengatakan bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah subhana wa ta’aladengan melihat keagungan yang telah menciptakan sebuah maha karya yang begitu luar biasa.

Berdasarkan pernyataan mereka yang mengklaim pernyataan seperti diatas tentu membuat kita bertanya – tanya sebenarnya apa sih hukumnya mendaki gunung di dalam islam?

Sebenarnya jika kita tinjau secara syari’at, dasar hukum mendaki gunung adalah mubah atau boleh. Bahkan jika tujuannya itu mulia malah bisa mendatangkan pahala, seperti berniat untuk melihat kekuasaan Allah subhana wa ta’ala seperti alasan diatas atau untuk mencari ilmu dan menerapkan disiplin ilmu untuk melestarikan alam seperti yang dilakukan oleh mahasiswa – mahasiswa pecinta alam. Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dibawah ini:

”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun ada problematika lain yang sering kita dapati dari mereka yang hobi mendaki mendaki gunung, seperti tinggalnya ibadah shalat 5 waktu yang bersifat wajib. Bagaimana bisa kita mengatakan sebuah niat yang begitu mulia untuk mendaki gunung namun meninggalkan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah melalui Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam.

Sebagian berdalih meninggalkan shalat sebab dalam kondisi kotor dan sebagainya, dan sebenarnya ini tidak bisa menjadi sebuah alasan untuk meninggalkan kewajiban shalat. Bahkan Allah telah memudahkan hambanya yang dalam keadaan safar untuk menjamak dan qasar shalatnya. Semua bisa diringkas dalam satu waktu seperti dzuhur dijamak dengan ashar dan magrib dijamak dengan isya.

Lantas bagaimana dengan wudhu, digunung itu airnya sulit bahkan jika pun ada maka akan sangat memberatkan untuk berwudhu karena terlalu dingin apalagi ketika shalat subuh di pagi hari. Alasan seperti ini juga tidak bisa menjadi alasan untuk kembali meninggalkan kewajibah shalat, karena kita bisa bertayamum dalam kondisi seperti ini. Sebab jika kita memaksakan diri untuk berwudhu maka akan menimbulkan kemudharatan bagi kita sendiri seperti akan berdampak terhadap kekurangan air untuk diminum atau bahkan bisa mengancam nyawa karena hipotermia.

Sebab islam itu tidak pernah memberatkan kecuali kita memberatkan diri kita sendiri untuk mengerjakan segala sesuatunya. Jadi tidak ada alasan apapun bagi kita untuk melalaikan kewajiban kita sebagai hamba. Mari mendaki gunung dengan tetap menjadi manusia taat tanpa mengabaikan kewajiban kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *